PEOPLENESIA.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya persebaran isu di era digital, reputasi menjadi aset yang sangat rentan. Dalam ekosistem komunikasi serba cepat ini, sebuah isu sederhana dapat berkembang menjadi tantangan signifikan dalam waktu singkat. Menjawab dinamika tersebut, Kelas Humas Muda (KHM) Vol. 5 hadir dengan tema “Cancel Culture and The Art of Surviving in Crisis”, yang digelar pada Sabtu, 20 Desember 2025 di Bart, Artotel Thamrin, Jakarta.

Kelas ini menjadi penutup penyelenggaraan rangkaian kegiatan selama 2025, melibatkan pembicara dari beragam latar belakang dan mendapatkan dukungan penuh dari berbagai komunitas dan praktisi kehumasan tanah air.

Dalam dunia komunikasi publik, krisis citra dapat lahir dari berbagai sumber, mulai dari kesalahan internal, pernyataan kontroversial, hingga respons yang kurang tepat terhadap isu sosial. Melalui KHM Vol. 5, peserta diajak untuk tidak hanya memahami cara merespons krisis, tetapi juga membangun kesiapsiagaan komunikasi, mengelola narasi publik secara bertanggung jawab, serta memulihkan kepercayaan secara berkelanjutan.

“Agenda kita ini adalah ruang diskusi dan kolaborasi bagi generasi muda pemerhati dan pegiat komunikasi, praktisi kehumasan, pelaku bisnis, serta content creator untuk memahami strategi manajemen krisis dan reputasi, serta bagaimana membangun kepercayaan; terutama terkait fenomena cancel culture yang kini cukup marak di ruang publik dan media sosial,” tutur Inisiator Kelas Humas Muda, Reylando Eka Putra.

Dibuka dengan keynote speech dari Bhayu Sugarda mewakili Deputi III APPRI, serta Budi Mustopo mewakili Kepala Biro Humas dan Protokoler Kementerian UMKM. KHM Vol. 5 menghadirkan sudut pandang dari beragam latar belakang, termasuk humas pemerintahan, sehingga peserta mendapatkan pembelajaran dan gambaran topik secara komprehensif.

Sebagaimana penyelenggaraan sebelumnya, acara kali ini juga mengundang tiga narasumber lintas bidang kegiatan. Para pembicara ini membagikan pengalaman dan perspektif dari sisi praktisi komunikasi, wirausaha (pelaku bisnis), serta figur publik digital dalam mengelola krisis di era transparansi. Ketiganya adalah:

1. Rhaka Ghanisatria, Founder & CEO Menjadi Manusia;
2. Ekhel Chandra Wijaya, VP Public & Internal Affair Harita Nickel;
3. Vega Karina Andira Putri, Lecturer dan Content Creator.

Selain sesi diskusi dan tanya jawab, KHM Vol. 5 juga dirancang interaktif melalui Digital PR Challenge: Crisis Communication, yang mengajak peserta mempraktikkan penyusunan strategi komunikasi krisis secara langsung. Kegiatan ini diharapkan dapat mengingatkan kembali pentingnya peran humas yang dituntut proaktif dan strategis dalam menghadapi situasi darurat reputasi.

“Dalam penanganan krisis kehumasan, persiapan yang matang menjadi faktor penentu, karena keberhasilan pada fase awal sangat bergantung pada sistem dan kesiapan yang telah dibangun sebelumnya. Prioritas utama saat krisis terjadi adalah mengamankan alur informasi dan komunikasi, disertai analisis isu serta dampak secara terukur. Tidak setiap krisis memerlukan keterlibatan pimpinan tertinggi, karena eskalasi yang tidak proporsional justru berpotensi menambah risiko.

Pada situasi kritikal, prinsip minimum viable information perlu diterapkan dengan menekankan kehadiran komunikasi yang cepat, faktual, dan bertanggung jawab,” ujar Ekhel Chandra Wijaya dalam sesi diskusi.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, Kelas Humas Muda Vol. 5 juga melakukan penyerahan donasi secara simbolis melalui Dompet Dhuafa, serta menggelar sesi networking yang dikemas santai untuk memperluas relasi antarpeserta dan narasumber.

Melalui penyelenggaraan Kelas Humas Muda Vol. 5, diharapkan peserta memperoleh pemahaman komprehensif bahwa manajemen krisis bukan sekadar memadamkan “kebakaran reputasi”, melainkan proses membangun kembali kepercayaan, memperkuat kredibilitas, dan menjadikan organisasi maupun individu lebih tangguh setelah krisis.

Pada kesempatan tersebut, Reylando yang mewakili seluruh penyelenggara KHM juga menyampaikan apreasiai kepada segenap pihak yang mendukung terselenggaranya acara. Di antaranya, komunitas kehumasan seperti H3 Indonesia (Himpunan Humas Hotel), Perhumas, APPRI (Asosiasi Perusahaan Public Relations), Iprahumas (Ikatan Pranata Humas Indonesia), PAFI (Public Affairs Forum Indonesia).

ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia) DKI Jakarta, dan komunitas lainnya, yaitu DOMPET DHUAFA, El John Indonesia, Proud Project, Minutes of Manager (MoM), WEWAW (Women Empower Women at Work), Young On Top (YOT), Komisi Nasional (Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia), Komisi Jakarta, Creatorium.id, Generasi Pesona Indonesia (Genpi), Lamu_indonesia, GrowthSkill, Ngakarya, Puan Bisa, BEM LSPR, AIESEC Indonesia, AII (Asosiasi Influencer Indonesia), Effion Creator School, serta para sponsor seperti Asuransi Astra, Harita Nickel, Sadewi, BULOG, The British Institute, Heart Troops, Oriflame, Citilink, Artotel Thamrin, BART Thamrin, Marygops 360, Frisian Flag, OMG, Nutrisari, Pendopo, Lexgoritma, Noir Sur Blanc, UPPR.

“Dengan langkah-langkah kolaboratif bersama berbagai pihak, kita berharap KHM akan terus hadir secara kontinyu tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas pegiat dan praktisi komunikasi publik, melainkan juga untuk menunjukkan kesiapan SDM kehumasan kita menghadapi tantangan global,” tegas Reylando.

Leave A Comment

you might also like