KHAYAE Hadirkan “SHADOW — Where Silence Speaks” di Islamic Fashion Festival
PEOPLENESIA.COM – Panggung Islamic Fashion Festival (IFF) tahun ini menjadi saksi hadirnya sebuah narasi fesyen yang tak sekadar visual, tetapi juga reflektif dan humanis. Melalui sub-koleksi terbarunya bertajuk “SHADOW — Where Silence Speaks”, label mode KHAYAE kembali melanjutkan eksplorasi konsep Habitat, menghadirkan busana yang berbicara tentang ruang sunyi, sisi batin, dan makna yang kerap tersembunyi di balik keheningan.
Jika koleksi Habitat sebelumnya menyoroti ruang hidup manusia, maka SHADOW mengajak audiens menyelami lapisan terdalam dari ruang tersebut—bayangan yang tidak selalu terlihat, namun justru menyimpan jejak emosi dan identitas terdalam manusia. Melalui permainan siluet, tekstur, dan bayangan, koleksi ini menegaskan bahwa diam pun memiliki suara.

Dalam narasi konsepnya, SHADOW merepresentasikan perjalanan manusia yang terus bergerak di antara terang dan gelap. Koleksi ini menangkap ruang emosional yang tersembunyi, sisi batin yang tak kasatmata, serta proses manusia dalam menghadapi bayangan dirinya sendiri. Dimensi “shadow” dihadirkan sebagai bagian tak terpisahkan dari habitat manusia—sebuah kesenyapan yang justru berbicara paling lantang.
Keistimewaan koleksi ini semakin kuat melalui kolaborasi humanis bersama para perajin batik ciprat difabel di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Melalui kerja sama ini, KHAYAE membuka ruang yang setara bagi teman-teman difabel untuk menampilkan kreativitas dan keahlian mereka dalam dunia mode. Setiap goresan batik ciprat hadir secara spontan, emosional, dan autentik—selaras dengan konsep shadow sebagai ekspresi batin yang jujur dan apa adanya.

Kolaborasi ini terwujud berkat dukungan Ibu Fatma Saifullah Yusuf, pendamping Menteri Sosial RI, yang selama ini konsisten memperjuangkan pemberdayaan dan ruang kreasi bagi komunitas difabel. Peran beliau menjadi penghubung penting dalam mempertemukan KHAYAE dengan para artisan batik ciprat, sekaligus memperkuat pesan inklusivitas dalam industri fesyen.

Dari sisi desain, koleksi SHADOW menghadirkan siluet modest kontemporer yang lembut namun tegas. Teknik layering digunakan sebagai metafora kedalaman bayangan, sementara permainan struktur memindahkan garis-garis shadow ke dalam konstruksi busana. Aksen batik ciprat difabel menjadi elemen visual utama yang memperkuat karakter koleksi, menjadikan setiap tampilan sebagai visual statement tentang bagaimana kesenyapan dapat berbicara dengan cara yang paling jujur.
Sebagai label mode, KHAYAE dikenal melalui pendekatan konseptual yang kuat, memadukan eksplorasi estetik, narasi budaya, dan eksperimen tekstil. Digerakkan oleh empat figur utama—Mawaddah Ilona Maslikhan, Elok Re Napio, Yati Silvia, dan Nathania Caya Dewi—KHAYAE menghadirkan karya yang berakar pada tradisi, namun disampaikan melalui bahasa modern. Bagi KHAYAE, fesyen bukan sekadar busana, melainkan medium untuk menyuarakan identitas, ruang hidup, dan nilai kemanusiaan.

Melalui “SHADOW — Where Silence Speaks” di panggung Islamic Fashion Festival, KHAYAE menegaskan bahwa fesyen mampu menjadi ruang dialog yang sunyi namun bermakna—menghadirkan keindahan, empati, dan kesadaran dalam satu kesatuan visual yang kuat.
latest video
news via inbox
Silahkan berlangganan melalui Email jika Anda ingin mendapatkan berita terbaru dari Peoplenesia


